Inilah Cerita Pilu Lusiana-Hepy Selama Bekerja di Malaysia

0
6860

Hal sama juga dialami, Hepy Pujiastuti (19) warga Desa Kutoharjo Kaliwungu Kendal tak menyangka dirinya akan merasakan dinginnya hotel prodeo di Malaysia dua bulan lamanya tanpa tau kesalahan yang dialaminya.

Penggerebekan oleh kepolisian raja Malaysia pada tempat ia berkerja pada Februari 2017 menjadi awal cerita pahit dirinya dan 148 TKI temanya.

“Saya itu ke malaysia itu untuk kerja, tidak mencuri, tidak melakukan kejahatan, kenapa saya ditahan dan dimasukkan sel selama dua bulan,” terangnya. Menurut Hepy merupakan TKI asal Kendal yang dipulangkan bersama 149 TKI dari berbagai kota di Indonesia pada bulan Mei 2017.

Hepy menceritakan dirinya berangkat ke Malaysia berkat mendaftar di PJTKI, PT SSS. Kala itu saat dirinya bersekolah di SMK Texmaco Semarang, PT SSS mengadakan promosi di sekolahnya untuk bekerja di luar negeri.Tergiur dengan gaji dan fasilitas yang ditawarkan, selang beberapa bulan kemudian, Hepy langsung mendaftarkan diri kepada PT SSS. Dirinya pun berangkat ke Malaysia pada Juli tahun 2016.”Dijanjikan akan bekerja di pabrik kosmetik, tapi saat sampai di Malaysia malah dipekerjakan di pabrik sarang walet untuk konsumsi makanan khas Cina,” tutur Hepy.

Meski hal yang dijanjikan tidak sesuai dengan harapan, dirinya tidak mempermasalahkan hal itu. Ia merasa nyaman bekerja di pabrik sarang walet. Ia pun tetap bekerja sampai 7 bulan lamanya.”Makan dijamin, yaitu 3 kali sehari, kerja hanya 8 jam ditambah dua jam lembur, dan liburnya tiap hari Minggu, gajinya setelah bekerja enam bulan naik jadi 1000 Ringgit (3 juta rupiah). Dan tidak ada sama sekali penyiksaan ataupun paksaan” jelas Hepy.

Meski ia nyaman dengan pekerjaan seperti itu, namaun berbeda halnya dengan rekan TKI lainnya. Ia menyebutkan ada TKI yang tidak terima dikerjakan di pabrik tersebut, mereka juga telah merencanakan untuk melaporkan ke polisi raja Malaysia.”Tapi ada banyak TKI yang tidak terima dengan diperkerjakan di pabrik walet itu. Akhirnya mereka melaporkan ke polisi sehingga terjadi penggrebekan itu,” terangnya.

Saat penggrebekan, semua pekerja pabrik diminta untuk menghentikan aktivitasnya, selanjutnya langsung digelandang dan dimasukkan sel, termasuk bos-nya.”Saya kan bekerja disini secara resmi, visa saya saja juga resmi tapi kenapa ditahan,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here