Kurangi Resiko Kematian, RSI Gelar Seminar Penanganan Pasien Korban Kecelakaan

0
10

KENDAL – Banyaknya pengalaman menangani pasien kecelakaan tanpa identitas, melatarbelakangi Rumah Sakit Islam( RSI) Muhammadiyah Kendal mengadakan seminar bertema “Evakuasi, Rujukan dan Bantuan Dasar” bagi korban kecelakaan. Seminar dilaksanakan di Aula RSI, Kamis (16/01/20).

Acara dihadiri puluhan peserta dari Kepolisian, Dishub, Jasa Marga, Baznas, KAI, dan Driver Ambulan. Narasumber yang dihadirkan meliputi, Ahmad Muttaqin Alim, Sp.Anastesi, Ketua MPKU Kendal Taufik Husein dan Direktur RSI Kendal, dr Suhadi.

Direktur RSI Kendal ,Suhadi mengatakan hampir setiap hari pihaknya menerima korban kecelakaan dan terbanyak dari tol, kemudian jalan raya dan rel kereta api. Dikatakan, selama ini penanganan terhadap pasien korban kecelakaan, masih secara parsial sehingga seringkali pasien yang ditangani identitas dan keluarganya, tidak diketahui.”Dampaknya kalau kita mau ambil tidakan bingung memint alersetujuan dengan siapa, sehingga pertolongan tidak maksimal,” jelasnya.

Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), Tauifik Husein mengatakan, penyebab kematian nomor satu di Indonesia berasal dari Jalan Raya, dan angka kecelakaan tertinggi ada di kendaraan roda dua.

“Tak hanya ruang UGD baru, RSI Kendal juga membeli tanah 1000 meter untuk menangani jenazah tidak bertuan yang bertempat dibelakang desa Ngasinan. Karena Tempat Pemakaman Umum(TPU) yang selama ini digunakan untuk mengubur jenazah tidak bertuan sudah tidak dapat menampung jenazah dari pasien RSI Kendal” kata Taufik Husein.

RSI Kendal juga melibatkan BAZNAS untuk pasien tidak bertuan yang tidak tercover BPJS dan Jasa Marga. Dengan adanya seminar ini diharapkan adanya kerjasama antara Kepolisian, Baznas, Dishub, Jasa Marga, KAI dan RSI Kendal. Karena keberhasilan penanganan korban kecelakaan bukan hanya dari pihak Rumah Sakit tetapi titik awal kejadian hingga sampai Rumah Sakit.

Sementara itu Ahmad Muttaqin Alim Spesialis Anastesi, mengatakan, pihak RSI Kendal telah menyiapkan ruang UGD baru dengan 32 bed, serta Staff Spesialis Emergency untuk ditempatkan di UGD baru, agar penanganan emergency bencana bisa ditangani dengan baik.”Kalau terjadi bencana, UGD bisa di maksimalkan untuk menampung 50 bed,” pungkasnya. (AU/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here