Pemuda Tempellemahbang Kembangkan Tanam Sayuran Sistem Aquaponik

0
2

BLORA– Atas kegigihan dan keuletan Mohammad Mohlishin (24) warga Desa Tempellemahbang Kecamatan Jepon Kabupaten Blora ini sukses mengembangkan pertanian dengan sistem aquaponik. Pertanian aquaponik sendiri pertanian menggunakan pupuk dari kotoran ikan. Selain hemat biaya, pertanian aquaponik ini dinilai lebih menguntungkan.“Selain bisa panen sayur juga bisa panen ikan,” tutur Ukis nama panggilan di desanya, Rabu (04/12/2019).

Menurutnya, di desa Tempellemahbang baru kelompoknya yang bertanam dengan cara seperti ini. Pertanian aquaponik ini sebenarnya tidak disengaja dilakukannya.“Awalnya pengin bikin kolam lele, terus browsing nemu aquaponik. Saya lihat kok unik ya, akhirnya saya terapkan disini,” ucapnya.

Dikatakan, ia memulai usaha ini sejak 6 bulan lalu. Jenis sayuran yang ia tanam seperti sawi sendok, kangkung dan selada.“Untuk harga sawi sendok 1 kg Rp. 25 ribu dan Kangkung Rp. 20 ribu,” ungkapnya.

Untuk pemasarannya dirinya tidak kesulitan karena hasil panen selama ini sudah ada pembeli yang mengambil.“Untuk pemasaran saat ini masih gampang, sementara ini hanya yang taraf perekonomian menengah keatas yang mau beli, dan untuk masyarakat yang lain belum sadar manfaat mengkonsumsi sayuran organik ini,” ungkapnya.

Guna menghasilkan nutrisi yang cukup untuk tanaman, lanjut Ukis, untuk satu meter kubik kolam yang biasanya hanya diisi 10 kg bibit ikan lele, ia bisa mengisi 60 kg.“Nantinya kotoran itu difilter terus diolah dan dialirkan kembali ke tanaman seperti cara hidroponik,” ujarnya.

Menariknya, aquaponik ini tidak hanya bisa diterapkan untuk tanaman sayuran seperti seledri, sawi maupun kangkung, melainkan juga bisa untuk tanaman buah seperti melon, semangka dan blewah.“Bahkan juga bisa untuk cabai dan tomat,” ucapnya.

Dirinya menambahkan keunggulan dari sistem pertanian ini bisa menghemat lahan namun, hasilnya maksimal. “Karena bisa panen ikan dan sayuran,” katanya.

Ikan yang bisa dipelihara mulai dari ikan jenis nila, gurame, lele, mujair bahkan ikan hias dan koi. Supaya hasilnya maksimal, perbandingan 1 : 2 harus diterapkan. Satu meter kubik kolam untuk dua meter kubik tanaman.

“Kalau aquaponik ini bisa dipastikan organik, karena pupuknya berasal dari kotoran ikan yang diolah,” paparnya.

Namun jangan salah, sistem pertanian seperti ini juga memiliki kekurangan. Seperti investasi awal yang lumayan besar karena untuk membuat kolam ikan serta paralon untuk menyalurkan pupuk. “Perawatan juga setiap hari harus dicek salurannya apakah lancar atau tidak,” imbuhnya.

Sementara itu Ketua Badan usaha milik desa (atau diakronimkan menjadi Bumdes) Agung Wibowo mengatakan bahwa meski begitu sederhana, saat ini memang masyarakat Tempellemahbang dan sekitarnya sudah menikmati manisnya pertanian aquaponik pemuda-pemudi di Tempellemahbang.

Lanjut Wibowo, Setidaknya dalam satu bulan ia mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp1,5 juta.“Itungannya sambilan di rumah, ada lahan kosong dimanfaatkan,” ungkapnya.

Perlu diketahui, Saat ini Ukis bersama teman-temannya yang tergabung dalam kelompok yang diberi nama “Maju Bareng” sedang memgembangkan tanaman hidroponiknya berharap pemerintah setempat bisa membantu memajukan usahanya tersebut. (KU/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here