Kisah Heroik  Aiptu Andi Turun Tangan Memulasarakan Tetangganya Yang Meninggal Karena Covid-19

0
11
Keterangan Foto: Polisi Sat Samapta Polrestabes Semarang Aiptu Andi Surwano saat memandikan jenasah tetangganya.

Sejak dua pekan terakhir, sering di dengar pengumuman orang meninggal di masjid-masjid ataupun mushala, sebagian besar penyebabnya karena terpapar Covid-19. Tingkat kematian akibat Covid-19 yang, membuat para tenaga kesehatan kewalahan dan tidak banyak berani mengurus jenasah pasien Covid-19. Namun aksi heroik,  Polisi Sat Samapta Polrestabes Semarang Aiptu Andi Surwano patut  diapresiasi, dan ditiru masyarakat.

Andi memberanikan diri memulasarakan jenazah terpapar Covid-19 yang merupakan tetangganya di Perum Graha Sendangmulyo Tembalang. Dia menjadi garda terdepan dalam pemulasaraan jenazah karena tidak ada tetangganya yang berani karena takut tertular.

Anggota Polisi yang merupakan Kasubnit Pam Obvit Satsamapta Polrestabes Semarang ini, menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa jas hujan, jaket polisi hijau, sarung tangan, face shield saat memandikan jenazah. Tidak ada satu pun warga yang ikut mendampingi pemulasaraan, kecuali modin setempat.

Andi menuturkan  jenazah tersebut baru saja meninggal, namun sakit karena terpapar Covid-19 tidak ada warga yang berani menadikan jenasah tersebut.”Saat dipulangkan dari rumah sakit ke rumah. Warga tidak ada yang berani. Pak Modin tidak mempunyai teman. Akhirnya saya diundang untuk membantu pemulasaran jenasah korban,,” jelas dia, Minggu (4/7/2021).

Awalnya, dia harus beradu argumen dengan istrinya sendiri saat ingin membantu memulasarkan jenazah Covid-19. Namun dirinya bisa meyakinkan istrinya untuk menolong memulasarakan jenazah dan Insyaallah akan baik saja karena dilakukan secara protokol kesehatan (prokes).”Awalnya saya sempat adu argumen sama istri karena takut terpapar saat memandikan jenazah. Tapi saya bilang yang saya lakukan untuk menolong orang,” ujarnya.

Berbekal ilmu pemulasaran jenazah Covid 19 yang dimiliki, dia memberanikan diri, APD yang digunakan seadanya, namun tetap aman dalam melaksanakan pemulasaran jenasah Covid-19.”Saya menggunakan APD dirangkap  jas hujan, dirangkap jaket polisi, sepatu boot saat memandikan jenazah. Masker saya rangkap tiga, pakai face shield juga. Yang saya tidak punya itu sarung tangan, maka saya lalu meminta tetangga yang merupakan petugas Puskesmas,” jelasnya.

Andi telah mengetahui banyak risiko yang harus dihadapinya saat memulasarakan jenazah, namun rasa kemanusiaan tidak menghalanginya untuk berbuat baik. Dirinya dengan telaten memandikan jenazah.”Saya bermodal semprotan buat burung, lalu saya isi dengan cairan disinfektan. Secara aturan tidak boleh dimandikan. Tapi Mudinnya minta dimandikan, maka saya mandikan,” tuturnya.

Andi mengaku harus mengkarantina mandiri setelah melakukan pemulasaraan.”Saya tidak langsung pulang ke rumah setelah memandikan jenazah. Saya mandi di rumah yang satunya dan baju saya beserta jas hujan langsung saya rendam detergen. Ya begitulah risikonya,” jelasnya. Ditambahkan, setelah jenazah dimandikan, lalu dimakamkan ke Demak, diangkut menggunakan mobil PMI.”Saya meminta doa agar saya kuat dan selalu diberi kesehatan sehingga dapat membantu masyarakat,” pungkasnya. Agus Umar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here