Jadi Guru Honorer, Politisi Gerindra Sebut Cawabup Ani Sosok Pelayan Masyarakat

0
21

KENDAL – Sosok Cawabup Yekti Handayani SPd yang beberapa hari lalu viral di media sosial akibat kampanye hitam menyerang aktivitas perusahannya PT Selomukti, justru mendapatkan simpati dari masyarakat luas. Terbaru, politisi muda Gerindra, Hegar Saputra, angkat bicara.

Anggota DPRD Kendal dari Dapil 3 yang meliputi kecamatan Singorojo, Boja, dan Limbangan (Siboli) itu menyebut Cawabup Ani yang berprofesi sebagai pengusaha di sisi lain juga mewakili aspirasi dari kalangan masyarakat bawah. Dikatakan, profesi lain Ani sebagai guru honorer, membuatnya mengerti persis persoalan yang dialami para guru tidak tetap (GTT).

“Saya salut Bu Ani yang sudah menjadi pengusaha sukses tapi masih mau menjadi guru honorer. Tentunya bicara soal pendidikan, beliau adalah pelaku. Selain GTT, ada suster, perawat, dan banyak profesi lain yang mengabdikan diri untuk melayani kepentingan orang banyak,” terang Hegar.

Atas dasar itulah, pihaknya mengaku memenangkan pasangan calon Ali Nurudin dan Yekti Handayani (Nurani) menjadi keniscayaan. Pertimbangan penting lainnya, imbuh Hegar, karena paslon NUrani berasal dari putra daerah.

“Dapil 3 Nurani wajib menang, tidak bisa ditawar-tawar lagi,” imbuhnya, di sela peresmian rumah pemenangan NUrani baru-baru ini.

Sementara itu, Cawabup Ani mengaku dirinya tidak asing dengan daerah Siboli. Dikatakan, dirinya pernah menjadi guru honorer di SMP Negeri 2 Boja dan SD di Desa Kertosari, Singorojo.

“Sampai sekarang saya juga masih mengajar. Di SD Negeri Kebongembong di dekat rumah saya, dan MTs Falahul Huda di Plantungan. Saya menjadi guru bantu mengajar bahasa Inggris,” terangnya.

Ditanya soal aktivitasnya sebagai guru sementara dirinya sudah menjadi pengusaha sukses di bidang pertambangan, diakuinya menjadi guru merupakan panggilan jiwa. Dikatakan pula, menjadi guru tidak semata-mata untuk mencari materi.

“Alhamdulilah, untuk kebutuhan materi saya dan suami sudah tercukupi. Saya sampai hari ini masih mengajar karena memang dibutuhkan oleh pihak sekolah. Kebetulan mencari guru bahasa Inggris di sekolah terpencil itu tidak mudah. Kalaupun ada, apa mau jika diberi upah kecil,” terangnya.

Alumnus IKIP PGRI Semarang itu, lebih lanjut menceritakan dirinya menjadi guru sejak lulus kuliah. Dari profesi yang dijalaninya ini, dia merasakan perjuangan para guru dalam ikut mencerdaskan anak bangsa. Apalagi para guru honorer di sekolah negeri maupun swasta.

Ditanya apa yang ingin dilakukan untuk mengangkat kesejahteraan para guru, Ani menyatakan akan mengupayakan upah yang layak untuk para GTT dan guru di sekolah swasta.

“Karena saya mengalaminya sendiri, jika diberi amanah nanti saya dan Pak Ustad Ali ingin berikan perhatian kepada GTT. Minimal mereka mendapatkan penghasilan yang layak dalam ativitas mengajarnya, yang besar kisarannya akan ditentukan oleh peraturan kepala daerah. Dan juga guru di sekolah swasta atau yang ada di bawah yayasan atau ormas misalnya NU atau Muhammadiyah kami akan memberikan bantuan khusus yang berbentuk insentif dari APBD di luar dana BOS,” pungkasnya. (AU/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here