Khaul Wali Putih Ke 17 Dihadiri Sekjen FSKM

0
1397

BATANG – Hari ini Minggu (1/7) khaul Syaikh Fatkhutieh yang ke 17 atau lebih dikenal dengan Wali Putih. Makam atau petilasan yang berada di Desa Sentul Kec. Gringsing dari pagi sudah terlihat banyak peziarah dari masyarakat Batang, serta dari luar kota yang akan menghadiri khaul Akbar yang digelar dan dilaksanakan oleh warga sekitar yang di pimpin oleh ulama setempat Kiai Sahdiyin. Dalam sambutan beliau memberikan sedikit sejarah singkat kepada hadirin bahwa alas Roban yang punya banyak cerita dan tentunya juga sebagai sebuah daerah di kabupaten batang yg berada dijalan Pantura atau pesisir utara pulau jawa, ini merupakan hutan yang memiliki banyak sejarah termasuk dalam perkembangan islam.
Salah satunya adalah Mbah wali putih,seperti itu masyarakat menyebut beliau,nama asli beliau adalah Syaikh fatkhutieh salah satu ulama yang mengembangkan dan menyebarkan islam di daerah alas Roban dan pesisir Jawa tengah,
acara dimulai dengan tahlil dilanjutkan dengan pengajian umum yang di isi oleh KH Gus Athoillah Asy’ariy bin KH Mustahal Asy’ariy dari ponpes al asyariyah wonosobo.
Kemudian acara dilanjutakan sambutan bapak bupati batang wahai yang hadir dalam acara tersebut didampingi bapak camat gringsing dan muspika kecamatan gringsing, tampak hadir pula gus fatchullah akbar sekjen FSKM JATENG sekaligus pembina pasnuda jateng ,beliau hadir dengan rombongan dari komunitas suluk Pantura,komunitas sarung roban ust, Syarif Hidayatullah ketua pasnuda jateng ( paguyuban santri daerah)

Setelah selesai acara Gus Fatchullah Akbar bersama rombongan melakukan ramah tamah di padepokan wali putih dengan acara audiensi dengan bapak bupati bersama komunitas sarung Roban ( komunitas santri wilayah alas Roban Gringsing ) komunitas ini diharapkan menjadi wadah baru bagi kalangan santri di wilayah gringsing yang kemudian ikut berperan aktif dalam membangun dan memajukan batang, komunitas ini didirikan atas kesadaran bersama di kalangan santri yang tinggal di sekitar alas Roban tentang bagaimana kemudian membentuk sebuah komunitas sebagai sebuah wadah silaturrahim yang bisa digunakan untuk saling skarang pengalaman, kemajuan dalam bidang ekonomi dan sosial.
Acara ramah tamah di tutup dengan wejangan atau nasihat dari gus Atok kepada komunitas sarung roban. (JAK/03)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini