Nasib Peternak Ayam Petelor Kendal Di Tengah Pandemi , Meski Rugi Tak Tega PHK Pekerja

0
222
Keterangan Foto: Meski saat ini peternak ayam petelor rugi, namun mereka tak tega mem PHK pekerjanya.

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup parah merasakan dampaknya. Banyak hotel, rumah makan, cafe, tempat hiburan, obyek wisata bahkan tempat ibadah tutup. Kondisi ini tentu berdampak besar bagi sejumlah pelaku ekonomi di Indonesai, salah satu diantaranya peternak mayam petelor.

Salah satu peternak  Ayam Petelor, Kendal, H Mastur Darori mengatakan, banyaknya hotel, rumah makan, cafe, tempat hiburan dan obyek wisata yang tutup sangat berdampak pada usahanya. Secara otomatis, permintaan telor ayam petelor yang selama ini tinggi langsung turun drastis. Kondisi ini diperparah dengan harga pakan telor yaitu jagung yang terus naik.’’Harga harga pakan ayam petelor saat ini Rp 6500-6800/Kg, sedangkan harga jual telor di Kandang hanya Rp 15-16 ribu/Kg. Peternak ayam petelur kali ini sangat sulit dan butuh bantuan pemerintah,’’ harapnya.

Untuk itu pihaknya meminta pemerintah bisa  menaikkan harga  telur sebab  jika  para  peternak  gulung tikar ribuan stake holder yang bekera dibidang peternakan akan kehilangan pekerjaan  dan mata pencaharian mereka.’’Ini kan berbahaya kalau asampai menambah jumlah pengangguran di Indonesia,’’ katanya.

Dijelaskan, untuk mengurangi biaya operasional  pihaknya juga mengurangi populasi ayam sekitar 30-40 persen. Bahkan  ayam  usia 65 minggu sudah di afkir dini. Mastur menambahkan, meski situasi sangat sulit namun pihaknya tidak tega memutus hubungan kerja (PHK) pekerjanya.’’Kami hanya mengurangi populasi dan menjual ayam afkir lebih dini, biar tidak rugi lebih banyak,’’ katanya.

Hal senada juga disampaikan peternak lain, Ismani. Menurutnya, saat ini kondisi peternak ayam petelor sangat terpuruk. Hal itu disebakan karena pakan ayam yaitu jagung pipilan untuk campuran pakan ternak yang biasanya Rp 4000/Kg  kini naik menjadi Rp 6000/Kg. Dampak naiknya harga pakan ini, berpengaruh dengan biaya produksi sekitar 70 persen.’’Peternak biasanya  menyetok pakan  hingga satu bulan namun karena  kondisi harga jagung  naik maka ia hanya  menyetok pakan untuk dua hari saja.’’Saat ini kami sangat menjerit, tolong peemrintah bantu kami, turunkan harga jagung dan naikan harga telor,’’ katanya. Agus Umar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini