Untuk membuktikan keseriusannya, dia pun rajin blusukan ke sejumlah tempat wisata, yang lama maupun baru. Sampai satu tahun ini, sudah ratusan destinasi wisata yang disambanginya. Kesempatan itu juga dimanfaatkan Wihaji untuk melihat daya dukung sarana dan prasarana wisata, terutama akses jalan wisata.
Promosi pariwisata pun gencar di lakukannya, sampai mendapat respon dukungan dan apresiasai dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, dengan merekomendasikan obyek wisata Kabupaten Batang Batang, sebagai Press Tour Forum Wartawan Pariwisata Biro Komunikasi Publik Kementrian Pariwisata dari pemerintah pusat Kamis, ( 03/05/2018) beberapa wakti lalu.
Tidak itu saja menghadapi lonjakan pengunjung di Batang Wihaji menginstruksikan pembangunan bandara perintis dan penyambung akses lainnya. Termasuk angkutan pemandu moda dari Pekalongan.
“Beberapa akses infrastruktur ke destinasi wisata sedang kita tata. Penyambungan darat, laut, dan udara salah satunya dengan membangun bandara perintis, dan angkutan pemandu moda dari Stasiun Pekalongan,” tutur Wihaji.
Lebih lanjut, dengan lonjakan pelancong ke Batang yang semakin meningkat, maka Pemkab serius membangun akses jalur udara. karena selama ini wisatawan tidak bisa langsung ke Batang tapi ke Bandara Semarang yang masih butuh waktu tempuh dua jam.
“ Kita masih perjuangkan membuat bandara perintis yang saat ini sudah masuk pengajuan ke kementrian perhubungan, dan kita sudah sediakan lokasi bandara,” ujar Wihaji.
Tidak hanya jalur udara, untuk jalur kereta ia mengusulkan agar ada akses langsung dari Jakarta. Sebelumnya, meski Batang punya dua stasiun aktif, tapi tidak ada kereta dari Jakarta yang berhenti di Batang. padahal kita memiliki dua stasiun kereta.
“Kita sudah minta secara langsung, dan melayangkan surat ke PT KAI, dan setelah lebaran Idul Fitri tahun ini akan di kaji, minimal ada kereta ekonomi yang bisa berhenti di stasiun Batang Batang,” tuturnya.
Tak hanya itu pembangunan Pelabuhan niaga Pengumpan Regional ( PR ) yang di miliki Batang saat ini masih tahap uji coba, kedepan kita harus siap, yang sesuai dengan tahapan di Tahun 2020 menjadi Pelabuhan Pengumpan atau pelabuhan internasional untuk ekspor import dengan konsep 4 in 1.
“ Saya memiliki konsep 4 in 1 yang menggabungkan kawasan pelabuhan akan di fungsikan untuk niaga, pengangkutan orang, pengangkutan ikan, dan juga pariwisata, setelah lebaran kita uji Pelabuhan Batang ke Karimun Jawa,” Kata Wihaji
Jargon ‘Palugada’ (apa yang lu mau gua ada), yang sering didengungkannya itu tidaklah omong kosong dan tak sekadar berorientasi ke luar, tetapi juga ke dalam. Menurut Wihaji, Batang memiliki segala potensi yang dimiliki untuk maju.
Untuk menggemparkan destinasi wisata, Wihaji mengajak pejabat pusat sekelas menteri, artis selebriti untuk mengunjungi tempat wisata yang ada di Batang, Mengelar even Rekor MURI Penyajian Pepes Ikan Terbanyak, Kejuaraan Paralayang di Bukit Sikuping Desa Kedawung Kecamatan Banyuputih di ikuti lima warga negara asing. Karena cara – cara itu sebagai sarana promosi yang paling cepet meningkatkan pamor destinasi wisata.
Pariwisata tidak lepas dari usaha ekonomi kreatif, oleh karena itu Pemkab menggandeng Badan Ekonomi Kreatif menciptakan 1000 wirausaha untuk didik agar mempunyai kreatifitas dan inovasi agar mampu berwirausaha. Tak hanya itu pelatihan dari dinas terkait sudah melakukan berbagai pelatihan, pembinaan, tidak juga melakukan pemantauan sejauh mana perkembangnya.
“Kalau ada permasalahan pemodalan Pemkab memiliki lembaga keungan yang siap membantu seperti BKK, Bappera dan disitulah nanti kalau kekurangan modal untuk kita dorong kesana dalam pemodalanya,” Jelas Wihaji
Untuk melestarikan makanan tradisonal dan menghidupkan geliat usaha mikro kecil menengah (UMKM), Pemkab Batang menggelar minggon Jatinan yang berlangsung di Hutan Kota Rajawali Batang pada hari Minggu. Minggon jatinan sebagai destinasi wisata dengan dengan konsep halal tourism yang terintegrasi dengan relegi. Yang bertujuan untuk menjaga budaya ketimuran dengan menyajikan makanan yang halal dan thoyib.
Ada aspek kuliner yang khas dengan 27 jenis yang di sajikan di lincak – lincak seperti pecel – pecelan, godog – godogan, minuman jamu, kopi, nasi liwet yang sangit, nasi jagung, srabi Kalibeluk yang di kemas secara tradisional.
Pembangunan jalan tol dapat merubah dinamika perekonomian regional suatu wilayah, baik dari segi investasi maupun UKM masyarakat sekitar tepi jalan, Wihaji sudah secara resmi melayangkan surat untuk meminta Mentri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, untuk penambahan rest area dan exit tol konektifing dengan wisata .
“ Konsep pembangunan ini merupakan konsep baru yang kita namakan TOD ( Transit Orientide Developmen) , dimana menggabungkan sesuatu kekuatan yang terintegrasi dengan UMKM, wisata, rest area. Untuk lokasi rest area exit tol di Pantai Celong Kecamatan Subah,” Kata Wihaji(UJ/6)

















































