KENDAL – Untuk mencetak generasi muda yang mampu mengembangkan pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan modern, Karang Taruna Kendal, bekerja sama dengan Satri Tani Milenial Joyobinangun (STMJ) dan Kementrian Pertanian menggelar kegiatan Training of Trainers (TOT) Pertanian Terintegrasi selama tiga hari mulai Selasa, Rabu, Kamis (19-21/05/2026) di Obyek Wisaya terpadu Promas Greenland Nglimut, Kecamatan Limbangan.
Kegiatan ini diikuti petani milenial dari berbagai daerah seperti Kendal, Batang, dan Wonogiri. Sejumlah guru muda, guru pesantren, hingga anggota Karang Taruna juga ikut ambil bagian dalam pelatihan tersebut.
Ketua Karang Taruna Kendal, Nattaya Kinenza SH mengatakan sangat menyambut baik dan mensuport kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan terobosan positif sebagai upaya mendukung program pemerintah pusat untuk mewujudkan swasembada pangan.”Saat ini sangat jarang pemuda yang mau menekuni usaha pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan. Namun dengan adanya pelatihan ini diharapkan akan lahir pemuda-pemuda yang mau menekuni bidang pertanian modern dengan baik,” harapnya.
Ketua STMJ, Sayidul Mursalin, mengatakan pelatihan itu menjadi langkah awal membangun pertanian berkelanjutan yang mampu menarik minat generasi muda. Menurutnya, sektor pertanian tidak boleh lagi dipandang sebagai pekerjaan tradisional, melainkan harus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.“TOT ini menjadi pilot project pertanian berkelanjutan. Kami ingin anak muda kembali mencintai pertanian dan tidak melupakan jati diri bangsa agraris,” katanya.
Dijelaskan, peserta dikenalkan konsep pertanian terpadu yang menggabungkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem produksi. Teknologi pertanian modern juga mulai diperkenalkan agar petani muda mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Gus Lin sapaan akrabnya menilai pertanian terintegrasi menjadi solusi untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.“Anak muda harus mampu mengintegrasikan teknologi pertanian agar sektor ini berkembang lebih cepat,” ujarnya.
Ia berharap peserta yang mengikuti TOT nantinya tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menjadi penggerak pertanian di daerah masing-masing.
Sementara itu, Ketua Kelompok Substansi Sertifikasi Profesi dan Akreditasi Pertanian Pusat Pelatihan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Drh Eka Herissuparman, menjelaskan pertanian modern membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan sertifikasi profesi.
Menurutnya, saat ini BPPSDMP telah mengembangkan 118 skema sertifikasi di sektor pertanian, mulai dari penyuluh pertanian, inseminator, hingga operator alat pertanian modern seperti drone.
“Sekarang operator drone pertanian juga harus punya sertifikasi agar penggunaan teknologi lebih profesional dan aman,” jelasnya.
Eko menyebut sistem pertanian terintegrasi mampu menciptakan sumber penghasilan berkelanjutan bagi petani karena pendapatan bisa diperoleh dari berbagai sektor usaha.
Kalau pertanian dilakukan secara terintegrasi, petani bisa punya penghasilan harian, mingguan, bulanan sampai tahunan,” katanya.
Selain pelatihan pertanian modern, BPPSDMP juga menyiapkan pelatihan kompetensi lain seperti fasilitator organik, teknik penyembelihan halal, kesehatan masyarakat veteriner, hingga keterampilan pengolahan daging atau butcher.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengapresiasi pelaksanaan TOT tersebut. Ia berharap kegiatan itu mampu melahirkan petani milenial yang adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian.
Menurutnya, regenerasi petani menjadi salah satu kunci penting mendukung target swasembada pangan nasional dan Jawa Tengah pada tahun 2029.
“Kegiatan ini sangat penting untuk mencetak generasi muda yang mampu memanfaatkan teknologi pertanian modern,” ujar Tika. (AU/01)



















































