KENDAL – Memperingati Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day), RSUD dr Hj Soewondo Kendal menggelar sosialisasi edukasi terkait gaya hidup sehat, deteksi dini, dan pemeriksaan kesehatan berkala terhadap pasien gagal ginjal. Selain itu, juga dilakukan pemberian apresiasi kepada pasien hemodialisis (cuci darah) yang dipusatkan di ruang Hemodialisa (HD), Kamis (12/3/2026).
Kegiatan sosialisasi menghadirkan narasumber Bambang Utomo SKep Ns, selaku Kepala Ruang Unit Dialisis, dan dr Teky Tjendani SpPD, spesialis penyakit dalam dokter mitra RSUD dr H Soewondo Kendal, serta dihadiri Kepala Bidang Humas, Sulistiyo, dan diikuti puluhan tenaga medis.“Peringatan Hari Ginjal Sedunia di RSUD dr H Soewondo tahun 2026 ini mengambil tema, Merawat Kesehatan Ginjal, Melindungi Bumi, atau Caring for People, Protecting the Planet,” jelas Bambang.
Dikatakan, RSUD dr H Soewondo Kendal saat ini banyak melayani pasien hemodialisis (HD), atau Pasien Ginjal Kronis (PGK) stadium lima.“Fenomena akhir-akhir ini, banyak sekali pasien yang menderita CKD stage lima atau chronic kidney disease, yaitu penyakit gagal ginjal stadium lima. Dengan banyaknya antrean yang mendata di unit dialisis, sehingga belum mendapatkan jadwal rutin untuk HD,” ujar Bambang.
Ditambahkan , munculnya fenomena baru, di mana dulunya pasien yang terjangkit CKD stage lima adalah para orang tua, sekarang juga menyerang kepada anak muda, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah gaya hidup.“Mengonsumsi makanan dan minuman cepat saji, atau minuman kemasan yang banyak mengandung gula dan garam, memicu anak-anak mulai banyak yang terkena ginjalnya,” tandas Bambang.
dr Teky Tjendani Sp PD, spesialis penyakit dalam dokter mitra RSUD dr H Soewondo Kendal menekankan, untuk melindungi ginjal yang harus dilakukan adalah deteksi dini.
Dijelaskan, cuci darah adalah tahap akhir prosedur krusial bagi pasien gagal ginjal kronis, di mana fungsi ginjal tersisa kurang dari 15 persen, sehingga mengharuskan mesin mengambil alih penyaringan darah. Dikatakan, di Indonesia penyakit ginjal kronis mayoritas disebabkan oleh penyakit diabetes dan hipertensi. Kemudian adanya penyakit seperti batu ginjal, dan penyakit lainnya.“Bagi pasien yang sudah mempunyai penyakit dasar, seperti diabetes dan terurama hipertensi dalam terapi memang diusahakan lebih memperhatikan kesehatan ginjalnya. Jadi pasien harus bisa mencapai target terapi pertama supaya tidak terjadi komplikasi di kemudian hari yang menyebabkan gagal ginjal,” tandas dr Teky.
Untuk mengantisipasi penyakit-penyakit itu masyarakat disarankan gaya hidup sehat seperti olahraga, memperhatikan berat badan, tidak merokok, tidak minum minuman yang banyak pengawetnya, atau minum obat-obatan yang tidak dengan resep dokter, serta minuman herbal yang tidak bersertifikat.
Salah seorang pasien, Muhammad Thoifur, asal Kaliwungu menyebut, pelayanan cuci darah di RSUD dr H Soewondo Kendal bagus. Diirinya mengaku sudah menderita penyakit gagal ginjal selama empat tahun.“Pelayanannya di RSUD dr H Soewondo ini sangat bagus, dan rasanya kekeluargaan. Ini saya setiap satu minggu cuci darah dua kali, prosesnya memakan waktu lima jam. Harapannya, semoga ke depannya pelayanan bisa lebih ditingkatkan, ungkapnya.(AU/01)





















































