Selasa, 22 September 2026
Iklan

Inilah Cerita Pilu Lusiana-Hepy Selama Bekerja di Malaysia

suarakeadilan · · 5 menit baca · 4x dibaca
Bagikan:
Inilah Cerita Pilu Lusiana-Hepy Selama Bekerja di Malaysia
Space Iklan Zona: article-top

Kendal – Dua mantan TKI yang disalurkan PT Sofia bercerita pengalaman kerja selama 18 bulan di Malaysia kesejumlah media. Saat didatangi sejumlah wartawan di rumahnya di Desa Lanji Kecamatan Patebon RT 6 RW I Lusiana Oktavia (21),   alumni SMK 1 Kendal ini mengenang kisahnya selama 18 bulan di Malaysia.

Lusiana mengaku tahun 2015 ada sosialisasi pemberangkatan tenaga kerja ke Malaysia oleh PT Sofia dan dirinya tertarik mendaftar lewat sekolah, namun berkas dimasukkan langsung di PT Sofia. Setelah melengkapi berkas dan nunggu empat bulan ahirnya dirinya berangkat ke Malaysia. Awalnya dirinya mendaftar bekerja di Perusahaan elektronik karena bukanya masih lama dan saat itu adanya pekerjaan sarang burung walet ahirnya dirinya mengiyakan karena pekerjaan yang dijanjikan tidak berat yaitu membersihin sarang burung walet di PT Grand Asia di Kuantan Malaysia.’’Sejak dari Kendal memang sudah disampaikan nanti bekerja di perusahaan sarang burung walet,’’ jelasnya.

Berita Terkait : Heboh Berita Perdagangan Siswa SMK, Kakak CEO PT SSS Klarifikasi

Space Iklan Zona: article-mid

Namun setelah diberangkatkan di Malaysia bukanya dibawa ke PT Gand Asia namun dibawa ke PT Maxim Birdnest. Menurut Luasiana dua perusahaan tersebut bosnya sama yaitu Albert. Setelah sampai di PT Maxim Birdnest para TKI mulai kecewa karena awalnya dijanjikan bekerja membersihkan sarang burung walet tapi malah mencabuti bulu burung walet.’’Pekerjaan ini sangat berat karena harus mencabuti bulu dengan diterangi lampu yang sangat dekat sehingga membuat mata sakit. Namun lama kelamaan terjadi biasa meski dalam sehari kerjanya 10 jam,’’ ujarnya.

Selama bekerja 18 bulan dengan gaji 1100 ringgit atau Rp 3 juta/ bulan dan setelah pulang mendapatkan asuransi Rp 7 juta di PT Maxim Birdnest banyak suka duka yang dialami karena perlakuan majikan pilih kasih. Sambil meneteskan air mata karena teringat saat di tahan di Malaysia, Lusiana mengaku, setelah 18 bulan berlalu derita mulai TKI mulai muncul karena tiba-tiba didatangi polisi.’’Saat itu disampaikan hari ini kerja terahir besok dipulangkan eh ternyata malah  dipenjara selama dua bulan, katanya dua hari tapi kita ditahan dua bulan di Bukit Jalil Malaysia,’’ ujarnya.

Tidak hanya dirinya dan 148 temanya, pemilik PT Gand Asia dan PT Maxim Birdnest, Albert warga Singapura juga ikut ditahan.’’Namun yang membuat kami sedih, pekerjaan yang kami lakukan tidak sesuai kontrak, begitu juga perusahaan kami bekerja berbeda dengan kontrak sehingga ini menjadi masalah disana. Akibatnya kami semua yang tidak tau apa-apa ditahan selama dua bulan yaitu Maret sampai Mei,’’ jelasnya.

Lusiana mengaku selama dua bulan dipenjara, para TKI hanya mendapatkan makan ala kadarnya dan kesulitan membeli kebutuhan karena semua kebutuhan pokok harganya mahal. Ibunda Lusiana, Srianah mengaku mendapat telepon dari anaknya di Bulan Maret 2016 yang intinya mau pulang. Namun beberapa hari kemudian ternyata Hp Lusiana mati dan tidak bisa dihubungi lagi karena ternayata HP-nya disita polisi Malaysia.”Saya bingung karena telepon Lusiana tidak bisa sehinga saya telepon temanya dan diceritakan kalau Lusiana dipenjara,’’ ujarnya.

Srianah mengaku saat pulang dari Malaysia, kondisi Lusiana kurus sekali dan dirinya sangat sedih melihat kondisi anaknya dan dipeluknya sambil menangis.

Hal sama juga dialami, Hepy Pujiastuti (19) warga Desa Kutoharjo Kaliwungu Kendal tak menyangka dirinya akan merasakan dinginnya hotel prodeo di Malaysia dua bulan lamanya tanpa tau kesalahan yang dialaminya.

Penggerebekan oleh kepolisian raja Malaysia pada tempat ia berkerja pada Februari 2017 menjadi awal cerita pahit dirinya dan 148 TKI temanya.

“Saya itu ke malaysia itu untuk kerja, tidak mencuri, tidak melakukan kejahatan, kenapa saya ditahan dan dimasukkan sel selama dua bulan,” terangnya. Menurut Hepy merupakan TKI asal Kendal yang dipulangkan bersama 149 TKI dari berbagai kota di Indonesia pada bulan Mei 2017.

Hepy menceritakan dirinya berangkat ke Malaysia berkat mendaftar di PJTKI, PT SSS. Kala itu saat dirinya bersekolah di SMK Texmaco Semarang, PT SSS mengadakan promosi di sekolahnya untuk bekerja di luar negeri.Tergiur dengan gaji dan fasilitas yang ditawarkan, selang beberapa bulan kemudian, Hepy langsung mendaftarkan diri kepada PT SSS. Dirinya pun berangkat ke Malaysia pada Juli tahun 2016.”Dijanjikan akan bekerja di pabrik kosmetik, tapi saat sampai di Malaysia malah dipekerjakan di pabrik sarang walet untuk konsumsi makanan khas Cina,” tutur Hepy.

Meski hal yang dijanjikan tidak sesuai dengan harapan, dirinya tidak mempermasalahkan hal itu. Ia merasa nyaman bekerja di pabrik sarang walet. Ia pun tetap bekerja sampai 7 bulan lamanya.”Makan dijamin, yaitu 3 kali sehari, kerja hanya 8 jam ditambah dua jam lembur, dan liburnya tiap hari Minggu, gajinya setelah bekerja enam bulan naik jadi 1000 Ringgit (3 juta rupiah). Dan tidak ada sama sekali penyiksaan ataupun paksaan” jelas Hepy.

Meski ia nyaman dengan pekerjaan seperti itu, namaun berbeda halnya dengan rekan TKI lainnya. Ia menyebutkan ada TKI yang tidak terima dikerjakan di pabrik tersebut, mereka juga telah merencanakan untuk melaporkan ke polisi raja Malaysia.”Tapi ada banyak TKI yang tidak terima dengan diperkerjakan di pabrik walet itu. Akhirnya mereka melaporkan ke polisi sehingga terjadi penggrebekan itu,” terangnya.

Saat penggrebekan, semua pekerja pabrik diminta untuk menghentikan aktivitasnya, selanjutnya langsung digelandang dan dimasukkan sel, termasuk bos-nya.”Saya kan bekerja disini secara resmi, visa saya saja juga resmi tapi kenapa ditahan,” katanya.

Ia dipulangkan setelah pabrik sarang waletnya digrebek oleh kepolisian raja Malaysia. Seluruh pekerja pabrik  tersebut ditahan dan dimasukkan sel. Sang bos pabriknya pun tak luput dari jeratan hukum.

Ibunya Hepy, Casmuri mengatakan saat digrebek anaknya sempat memberikan kabar kepadanya bahwa pabrik tempat anaknya digrebek oleh polisi Malaysia.
“Setelah itu tidak ada kabar sama sekali dari si Hepy. Saya jadi khawatir dengan nasib anak saya,” jelasnya.Waktu  itu  dirinya meminta kejelasan dari PT SSS mengenai nasib anaknya.”Saya telepon KBRI kalau anak saya baik-baik saja, namun namanya ibu pasti khawatir,” jelasnya. Saat pulang ia prihatin dengan kondisi anaknya. Ia menjelaskan kondisi anaknya seperti tidak terawat. (1)

Sumber asli: SuaraKeadilan.net

Berita Terkait

Komentar (0)

Jadilah yang pertama berkomentar.